Direktur Pascasarjana, Prof. Tulus Suryanto Paparkan Strategi Penguatan Penjaminan Mutu Pendidikan Islam pada Konferensi Internasional KPK MUI

Bandar Lampung – Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Tulus Suryanto, M.M., Akt., C.A., PIA., CMA, tampil sebagai salah satu pembicara dalam International Conference bertajuk “Global Islam and Islamic Religious Education Today: Pedagogy, Digital Ethics, and Resilience in a Changing World” yang diselenggarakan oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (KPK MUI) bekerja sama dengan Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung pada Sabtu (11/7/2026).
Dalam forum akademik berskala internasional tersebut, Prof. Tulus menyampaikan materi berjudul “Strategies for Enhancing Quality Assurance in Islamic Education”, yang menyoroti pentingnya sistem penjaminan mutu sebagai fondasi utama dalam meningkatkan daya saing pendidikan Islam di era global. Ia menegaskan bahwa globalisasi dan transformasi digital telah mengubah lanskap pendidikan sehingga lembaga pendidikan Islam dituntut memiliki sistem penjaminan mutu yang adaptif, berkelanjutan, dan berorientasi pada standar internasional.

Menurut Prof. Tulus, penjaminan mutu bukan sekadar memenuhi kebutuhan internal lembaga, tetapi telah menjadi tuntutan global untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif. Oleh karena itu, pengelolaan mutu harus dilakukan secara sistematis melalui penerapan standar, prosedur, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan dengan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA).
Dalam paparannya, Prof. Tulus menjelaskan bahwa pendidikan Islam yang berkualitas harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai keimanan, ilmu pengetahuan, dan amal dalam satu kesatuan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan Islam juga harus adaptif terhadap perkembangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan utama.

Ia juga mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi pendidikan Islam, antara lain kesenjangan mutu antar lembaga, keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya capaian pembelajaran, serta kesenjangan digital. Menurutnya, tantangan tersebut perlu direspons melalui strategi yang komprehensif dan kolaboratif agar transformasi pendidikan Islam dapat berjalan secara optimal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Tulus menawarkan tiga strategi utama. Pertama, pengembangan kurikulum integratif yang menghubungkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern serta berorientasi pada kompetensi abad ke-21. Kedua, penguatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kompetensi dosen dan guru secara berkelanjutan. Ketiga, akselerasi digitalisasi pendidikan melalui pemanfaatan e-learning, pembelajaran hibrida, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta penguatan etika digital dalam proses pembelajaran.

Konferensi internasional ini menghadirkan akademisi dari berbagai negara, di antaranya Prof. Maila Dinia Husni Rahiem (Indonesia), Prof. Dr. Haslinda Abdullah (Malaysia), Prof. Dr. Tulus Suryanto (Indonesia), dan Dr. Mehmet Soyhun (Jerman). Forum ini menjadi ruang kolaborasi akademik untuk membahas pembaruan pedagogi, etika digital, ketahanan sosial, serta penguatan pendidikan Islam dalam menghadapi dinamika global.
Melalui pemaparannya, Prof. Tulus Suryanto berharap penjaminan mutu tidak lagi dipandang sebagai sekadar pemenuhan standar administratif, tetapi menjadi budaya organisasi yang mendorong inovasi, peningkatan kualitas, dan daya saing lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utamanya. (TWI)